Benarkah DKI Effect Akan Terasa di Pilkada Jabar 2018?
[tajuk-indonesia.com] - Pemilihan kepala daerah Jawa Barat yang akan diselenggarakan serentak dengan daerah- daerah Indonesia lainnya dinilai tidak terlepas dari DKI effect.
Demikian disampaikan CEO Indekstat Indonesia Ary Santoso dalam keterangan tertulisnya yang diterima Aktual.com di Jakarta, Jumat (2/6).
“Kami melakukan beberapa riset dan menemukan beberap hal menarik dalam menghadapi Pilgub Jabar 2018. DKI effect disinyalir akan terasa dalam kontestasi Pilgub Jawa Barat 2018,” kata Ary.
Menurut dia, ada beberapa tipologi pemilih di Pilkada Jabar nanti, diantaranya masih kuatnya pemilih mencari kesamaan agama dengan calon gubernur dan wakil gubernur Jabar nanti.
“Hasil riset Indekstat Indonesia menunjukkan bahwa factor kesamaan agama dalam memilih kepala daerah di Jawa Barat sangat tinggi yakni 77 persen. Sedangkan 23 persen nya mengatakan bukan agama yang menjadi pertimbangan dalam memilih kepala daerah.”
Pertimbangan inilah, sambung dia, yang mesti menjadi perhatian oleh para Partai Politik ataupun kandidat dari jalur independen dalam menentukan langkah politik.
Indekstat Indonesia, masih kata Ary, selain agama, popularitas dan program janji yang ditawarkan serta janji kampanye masih menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin oleh masyarakat Jabar.
“Sehingga tidak heran bahwa kontruksi tawaran program dan janji politik menjadi fokus para kandidat dan partai politik dalam Pilgub Jawa Barat 2018 ini. Sebab, Jawa Barat dalam 10 tahun terakhir memang mengalami perkembangan signifikan walaupun di beberapa tahun terakhir dalam masa kepemimpinan (Gubernur Jawa Barat) Ahmad Heryawan cenderung stagnan dengan beberapa indikator yang masih di bawah rata-rata nasional.”
“Tentu kandidat yang baru harus menawarkan program dan janji politik yang jauh lebih baik lagi dari 10 tahun masa kepemimpinan Ahmad Heryawan.”
Oleh karena itu, Ary menjelaskan aspek popularitas sangat berpengaruh dalam pertimbangan pemilih, maka para kandidat dengan berbagai saluran promotion mencoba mengenalkan dia, hal ini berdampak kepada membengkaknya biaya sosialisasi kandidat terutama kandidat yang masih belum dikenal luas masyarakat.
“Tipologi masyarakat Indonesia yang notabene masih memiliki tingkat pendapatan rendah membuat para kandidat harus menjemput dan menghampiri pemilih atau istilah sekarang dikenal dengan blusukan.” [aktual]
Pertimbangan inilah, sambung dia, yang mesti menjadi perhatian oleh para Partai Politik ataupun kandidat dari jalur independen dalam menentukan langkah politik.
Indekstat Indonesia, masih kata Ary, selain agama, popularitas dan program janji yang ditawarkan serta janji kampanye masih menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin oleh masyarakat Jabar.
“Sehingga tidak heran bahwa kontruksi tawaran program dan janji politik menjadi fokus para kandidat dan partai politik dalam Pilgub Jawa Barat 2018 ini. Sebab, Jawa Barat dalam 10 tahun terakhir memang mengalami perkembangan signifikan walaupun di beberapa tahun terakhir dalam masa kepemimpinan (Gubernur Jawa Barat) Ahmad Heryawan cenderung stagnan dengan beberapa indikator yang masih di bawah rata-rata nasional.”
“Tentu kandidat yang baru harus menawarkan program dan janji politik yang jauh lebih baik lagi dari 10 tahun masa kepemimpinan Ahmad Heryawan.”
Oleh karena itu, Ary menjelaskan aspek popularitas sangat berpengaruh dalam pertimbangan pemilih, maka para kandidat dengan berbagai saluran promotion mencoba mengenalkan dia, hal ini berdampak kepada membengkaknya biaya sosialisasi kandidat terutama kandidat yang masih belum dikenal luas masyarakat.
“Tipologi masyarakat Indonesia yang notabene masih memiliki tingkat pendapatan rendah membuat para kandidat harus menjemput dan menghampiri pemilih atau istilah sekarang dikenal dengan blusukan.” [aktual]