Ahmad Dhani : Tidak ada aksi makar !
[tajukindonesia.net] Musikus Ahmad Dhani membantah dugaan pendanaan untuk upaya makar. Namun ia mengaku sempat diminta tersangka Firza Husein untuk menyiapkan mobil komando guna keperluan aksi 212 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
"Saya bercerita kepada-di BAP itu-memang Mbak Firza minta sumbangan untuk mobil komando buat Habib Rizieq. Lalu saya bilang saya sepakati untuk iya, tapi ternyata mobil sudah ada, tapi tidak jadi, batal," ujar Dhani usia diperiksa di Polda Metro Jaya, Rabu (4/1/2017) malam.
Dhani menegaskan, kalaupun dirinya menyumbang seperti untuk aksi 411, itu berupa sound system, tidak dalam bentuk uang. Saat ditanya soal alasan mengapa Firza Husein memintanya menyiapkan mobil komando tersebut, Dhani menjawab diplomatis.
"Saya tidak tahu, mungkin mereka anggap mobil komando saya lebih baik. Kan saya tidak tahu. Sound system saya juga mungkin lebih baik, 411 sound system saya dipakai di aksi. 411 saya sumbang juga untuk sound system-nya," kata Dhani.
Lebih jauh, Dhani menjelaskan soal pertemuan dirinya dengan Rachmawati Soekarnoputri di Hotel Sari Pan Pacific pada tanggal 1 Desember 2016. "Saya bertemu dengan Rachmawati waktu tanggal 1 (Desember) waktu jumpa pers, waktu masuk tanggal 2 dini hari, saya tidur di kamar bersama Abdul Qodir Jaelani--anak saya Dul--karena saya berencana untuk salat Jumat bersama Dul," terang Dhani.
Menurut Dhani, pada tanggal 1 Desember malam, Rachmawati cs sudah memutuskan mengurungkan niat aksi demo di gedung DPR/MPR. "Karena kita dapat kabar dari Pak Hatta Taliwang, Bapak Ketua MPR Zulkifli Hasan tidak bisa menerima kami di DPR tanggal 2, jadi langsung--saya tak tahu yang lain ya--kalau saya langsung berubah rencana tanggal 1 (Desember) malam," lanjutnya.
"Saya langsung ajak Dul menginap di Sari Pan Pacific untuk sewa tempat di pagi hari, lalu kemudian di siang setelah salat Jumat, saya berencana bikin video klip lagu saya yang baru berjudul 'Iman 212'," sambungnya.
Sehingga, menurutnya, tidak ada aksi makar seperti yang dituduhkan oleh polisi. Bahkan mereka juga tidak bergerak ke DPR saat itu.
"Sudah mulai buyar dengan sendirinya karena Bapak Zulkifli Hasan tidak bisa ditemui tanggal 2 Desember, sudah ada konfirmasi," tandasnya. [dnws]