Jokowi dan Orkestra Digital


[tajukindonesia.id]         -          Dalam era informasi, kronos (dewa waktu) terperangkap dalam sebuah microchips. Akibatnya, manusia memasuki sebuah era matinya kontemplasi karena tergerus oleh hiperakselerasi virtualitas. Sehingga dalam durasi kecepatan tempo tinggi, maka yang menjadi subyek adalah kecepatan itu sendiri.
Digambarkan Paul Virillo dalam buku Speed & Politics (1986), bagaimana politisi layaknya berlari diatas treadmill yang diset secara otomatis. Sebagai contoh, irama pemerintahan Jokowi yang keruh oleh lalu lintas isu radikalisme. Di saat ekspektasi menguatnya Pancasila, masyarakat justru sedang berada dalam titik kejenuhan akibat overdosis NKRI harga mati.

Miskalkulasi terhadap "changing mood" masyarakat menciptakan instabilitas frekuensi orkestra digital Jokowi. Melimpahnya sokongan finansial yang digunakan cyber slave ternyata gagal memprediksi bahwa publik sudah bosan dengan Islamophobia. Tatkala mengasong isu teroris kurang menyeramkan, perselingkuhan tidak meyakinkan, LGBT juga tidak laku, lalu apalagi?

Di saat para penjaja pluralisme dipusingkan oleh roller coaster digital, tegangan tinggi Kawasan Timur Tengah semakin menjadi. Jerussalem kini menjadi momen yang notabene sangat sexy untuk provokasi, akhirnya hanya menjadi fantasmagoria semata. Sekali lagi, para penjilat harus menelan pil pahit.

Harusnya Jokowi mengakui, bukan politisi yang mengatur informasi tapi informasi yang mengatur politisi. Dalam buku Creative Evolution (1911), Henry Bergsson mengkorelasikan fluktuasi pemberitaan dengan bioritmik kesadaran manusia. Jika orkestra digital yang telah basi ini tidak segera diakhiri, maka Jokowi akan segera terjangkit epilepsi.[ts]


Subscribe to receive free email updates:

Related Posts :