Motif Politis dan Agama di Balik Tragedi Rohingya
[tajuk-indonesia.com] - Tragedi Rohingya membuat setiap Muslim terluka. Bagaimana tidak, tersebar viral foto-foto saudara Muslim kita etnis Rohingya yang begitu nelangsa. Merekalah korban kekejian kaum Budha dan junta militer pemerintahan Myanmar. Akhirnya berbagai kecaman pun mengalir laksana air bah. Tak terbendung. Tuntutan untuk memutus hubungan diplomatik dengan rezim bengis Myanmar pun ramai-ramai disuarakan. Tak ketinggalan, seruan untuk mengirimkan tentara ke Myanmar juga lantang terdengar. Memang begitulah semestinya, karena yang dibutuhkan Rohingya bukan sekadar bantuan kemanusiaan, diplomasi basa-basi, doa, apalagi sekadar air mata.
Sungguh Rohingya butuh kepedulian pemimpin-pemimpin negeri Muslim untuk mengakhiri pembantaian atas mereka selama-lamanya. Di sinilah Ukhuwah Islamiyah diuji. Apakah lebih mengedepankan sekat nasionalisme daripada menolong saudara seakidah? Bukankah sesama Muslim itu satu tubuh? Ketika satu bagian terasa sakit, maka yang lagi ikut pula merasakan sakitnya.
Sebab sejatinya di balik tragedi Rohingya ada upaya pemusnahan etnis yang kental dengan motif politis dan agama. Sayangnya semua itu ditutupi rapat-rapat dengan dalih takut menjadi provokasi. Kemudian diserulah dengan lantang oleh media bahwa ini konflik kemanusiaan. Tokoh-tokoh politik pun serentak mengatakan bahwa tragedi Rohingya bukan tragedi agama. Sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, beliau mengatakan, sebaiknya masyarakat tidak terjebak dalam melihat isu kekerasan terhadap warga Rohingya sebagai konflik antara Islam dan Buddha. Hal tersebut, menurut Yenny, justru akan menimbulkan polemik di dalam negeri.(Kompas.com/06-09-2017)
Sebagai seorang Muslim tentu kita harus cerdas dan kritis memandang setiap persoalan yang terjadi. Tak mudah terseret opini yang sengaja digiring media. Tak juga mudah termakan hoax yang beredar. Agar tak salah bersikap, agar tak salah menilai.
Dulu, ada negara namanya Arakan, penduduknya Muslim yang berjumlah sekitar 3 juta jiwa. Sedangkan negara yang bersebelahan dengan Arakan, namanya Burma. Kemudian kedua negara ini akhirnya bersatu di bawah nama Myanmar. Kaum Buddha menjadi mayoritas karena jumlahnya mencapai 50juta jiwa, dibanding etnis Rohingya (Muslim) yang hanya 3 juta jiwa.
Sejak saat itu. populasi etnis Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara Bagian Rakhine sebelumnya disebut Arakan. Etnis Rohingya adalah masyarakat Muslim yang hidup tanpa kewarganegaraan di Myanmar.
Jika kita menilik jernih fakta sejarah, pembantaian etnis Rohingya secara keji dan membabi buta adalah bukan sekadar masalah kemanusiaan, tetapi genosida pembersihan etnis yang terencana sejak lama. Ada kepentingan koorporasi kapitalis asing dan aseng di tanah tempat etnis Rohingya menetap.
Sebagaimana di lansir oleh Republika.co.id pada 13 September 2017 bahwa dikatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi di belakang Tragedi Rohingya adalah di Myanmar terjadi penggusuran petani kecil untuk memberi ruang bagi perampasan tanah secara besar-besaran. Sejak investor asing memasuki negara tersebut, permintaan atas tanah telah menjadi faktor utama dalam konflik Myanmar. Selain Myanmar jadi perbatasan Asia terakhir untuk pembangunan perkebunan pertanian, pertambangan, dan ekstraksi air. Myanmar juga berada di antara dua negara terpadat di dunia, Cina dan India, keduanya lapar akan sumber daya alam.
Tak hanya itu, sentimen agama juga ada di balik tragedi ini. Penyerangan bus yang berisi penumpang Muslim oleh sekelompok Buddha hingga memakan korban tewas 10 orang Muslim dipicu oleh adanya selebaran fitnah dari sekelompok orang.
Fitnah tersebut disebarkan oleh orang-orang Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita Buddha berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang pemuda Budha Rakhine.
Menurut Versi lainnya, aksi penyerangan terhadap etnis Rohingya merupakan tindakan balasan atas penyerangan yang dilakukan oleh ARSA ( Arakan Rohingya Salvation Army ) pada tanggal 25 Agustus lalu ke pos-pos Militer di negara bagian Rakhine. Katanya, kelompok itu membunuh 12 orang dalam serangan terbesar mereka hingga saat ini. Jika memang benar itu serangan balasan mengapa begitu membabi buta? Wanita, lansia, anak-anak dan bayi pun menjadi korbannya. Bahkan rumah-rumah dibakar secara sadis. Tak masuk akal!
Dunia bungkam, pemimpin negeri-negeri Muslim pun tak mampu berbuat banyak selain mengecam.Lebih menyedihkan lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.
Nasib Rohingya terkatung-katung sejak lama. Sudahlah tak memiliki kewarganegaraan, ruang hidup mereka dibatasi, ditambah saat ini populasi mereka berusaha dibumihanguskan. Sungguh, hanya institusi politik Islam yang mampu mengakhiri segala bentuk kedzaliman terhadap kaum muslimin, bukan hanya Rohingya, tapi juga Palestina, Irak, Suriah. Kedzaliman yang nyata dan terkesan direstui dunia adalah karena umat Islam terpecah belah bagaikan buih di lautan, tak memiliki pemimpin. Wallahu’alam [kbn]
Jika kita menilik jernih fakta sejarah, pembantaian etnis Rohingya secara keji dan membabi buta adalah bukan sekadar masalah kemanusiaan, tetapi genosida pembersihan etnis yang terencana sejak lama. Ada kepentingan koorporasi kapitalis asing dan aseng di tanah tempat etnis Rohingya menetap.
Sebagaimana di lansir oleh Republika.co.id pada 13 September 2017 bahwa dikatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi di belakang Tragedi Rohingya adalah di Myanmar terjadi penggusuran petani kecil untuk memberi ruang bagi perampasan tanah secara besar-besaran. Sejak investor asing memasuki negara tersebut, permintaan atas tanah telah menjadi faktor utama dalam konflik Myanmar. Selain Myanmar jadi perbatasan Asia terakhir untuk pembangunan perkebunan pertanian, pertambangan, dan ekstraksi air. Myanmar juga berada di antara dua negara terpadat di dunia, Cina dan India, keduanya lapar akan sumber daya alam.
Tak hanya itu, sentimen agama juga ada di balik tragedi ini. Penyerangan bus yang berisi penumpang Muslim oleh sekelompok Buddha hingga memakan korban tewas 10 orang Muslim dipicu oleh adanya selebaran fitnah dari sekelompok orang.
Fitnah tersebut disebarkan oleh orang-orang Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita Buddha berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang pemuda Budha Rakhine.
Menurut Versi lainnya, aksi penyerangan terhadap etnis Rohingya merupakan tindakan balasan atas penyerangan yang dilakukan oleh ARSA ( Arakan Rohingya Salvation Army ) pada tanggal 25 Agustus lalu ke pos-pos Militer di negara bagian Rakhine. Katanya, kelompok itu membunuh 12 orang dalam serangan terbesar mereka hingga saat ini. Jika memang benar itu serangan balasan mengapa begitu membabi buta? Wanita, lansia, anak-anak dan bayi pun menjadi korbannya. Bahkan rumah-rumah dibakar secara sadis. Tak masuk akal!
Dunia bungkam, pemimpin negeri-negeri Muslim pun tak mampu berbuat banyak selain mengecam.Lebih menyedihkan lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.
Nasib Rohingya terkatung-katung sejak lama. Sudahlah tak memiliki kewarganegaraan, ruang hidup mereka dibatasi, ditambah saat ini populasi mereka berusaha dibumihanguskan. Sungguh, hanya institusi politik Islam yang mampu mengakhiri segala bentuk kedzaliman terhadap kaum muslimin, bukan hanya Rohingya, tapi juga Palestina, Irak, Suriah. Kedzaliman yang nyata dan terkesan direstui dunia adalah karena umat Islam terpecah belah bagaikan buih di lautan, tak memiliki pemimpin. Wallahu’alam [kbn]