Mantan Aktivis Pertanyakan "Mana Suara Mahasiswa?" , Terkait Naiknya Harga Kebutuhan
[tajukindonesia.net] - Awal tahun 2017 saat ini, pemerintah menaikkan berbagai harga. Mulai dari biaya administrasi pengurusan surat kendaraan, Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga tarif dasar listrik (TDL).
Menanggapi hal tersebut, mantan aktivis mahasiswa Pontianak, Taufik
Ikhwan mempertanyakan eksistensi mahasiswa saat ini. Pasalnya, suara
mahasiswa yang biasanya nyaring menolak keras kenaikan, kini tak
terdengar.
“Seharusnya sebagai intelektual, mahasiswa harus berani mengambil sikap
oposisi ketika kepentingan rakyat terabaikan,” ujarnya dikutip dari
Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Senin (9/1).
Ia menyebut bahwa sebagai seorang mahasiswa punya kewajiban kepada
masyarakat. “Benar bahwa mahasiswa wajib berprestasi secara akademik,
namun mahasiswa juga punya kewajiban untuk pengabdian pada masyarakat,
salah satunya dengan menyuarakan keresahan masyarakat,” ucap mantan
aktivis Universitas Tanjungpura (Untan) itu.
Taufik mengingat pernah mengikuti beberapa kali demonstrasi ketika
semasa kuliah. Ia menyebut peringatan 10 tahun reformasi pada mei 2008
sebagai salah satu yang terbesar yang pernah diikutinya. Satu hal yang
ia sayangkan, seringkali eksponen mahasiswa di Kalbar masih jalan
sendiri-sendiri.
“Biasanya harus ada isu bersama, baru bisa mereka ini bersatu, karena kalau misah-misah ini kecil,” ujarnya.
Menurutnya, isu kenaikan harga di awal tahun ini sebenarnya bisa jadi
isu bersama. Namun sayangnya sampai hari ini pergerakan mahasiswa
tersebut belum tampak.
Taufik juga menganggap bahwa ada gambaran negatif terhadap aktivis
mahasiswa yang terbentuk belakangan ini. “Bahwa mahasiswa yang rajin
demo itu buruk, yang aktif di organisasi itu nggak baik, ada paradigma
yang begitu,” ujarnya.
Ia berharap, para mahasiswa tidak ragu untuk bersuara. Menurutnya,
jangan sampai mahasiswa tidak ubahnya seperti para politisi dan pejabat.
“Ketika yang diurus itu rebutan jabatan, rebutan pengaruh, rebutan
proyek mereka rela sampai gontok-gontokkan, tapi ketika yang
diperjuangkan adalah kepentingan masyarakat luas geraknya alakadarnya
saja,” papar Taufik.
Baginya, mahasiswa adalah orang-orang pilihan. “(Mahasiswa) adalah kaum
intelektual yang beruntung, karenanya punya kewajiban kepada rakyat,
bukan hanya belajar, lulus kemudian kerja cari duit,” sindirnya.
Sementara itu, Tim Ahli Kebijakan Publik KAMMI Kalbar, Andika Indra
Purwantoro menolak mahasiswa dianggap hanya diam. Menurutnya, ia dan
rekan-rekan mahasiswa butuh waktu untuk mengkaji dan mencermati
persoalan terlebih dahulu sebelum bersikap.
“Senin atau Selasa besok kita sudah rencanakan turun ke jalan, kemarin
sendiri kita sudah bikin diskusi tentang isu-isu ini,” ujarnya. “Hari
kamis juga kabarnya serentak BEM seluruh Indonesia akan turun,” tambah
Andika.
Ia mengaku, sampai saat ini KAMMI masih bergerak sendiri. “Diskusi
bersama itu belum ada, elemen gerakan lain pada belum respons, mereka
lagi menunggu juga kayaknya, atau biasanya kita cuma ketemu di
lapangan,” bebernya. [jwp]