Inilah Kata/Komentar Warga Kepulauan Seribu Soal Pidato Ahok yang Kutip Al Maidah



[tajukindonesia.net] Pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pulau Pramuka, Kelurahan Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, menimbulkan polemik hingga dibawa ke meja hijau. Apa kata warga Pulau Pramuka soal pidato Ahok?

Pidato Ahok bermasalah itu disampaikan di Pulau Pramuka pada 27 September 2016. Sedianya, Ahok hanya akan berdialog dengan warga soal budi daya ikan, dilanjutkan panen di salah satu kapal tambak Pulau Panggang. Di sela acara, Ahok berpidato. Pidato itulah yang bergulir jadi kasus dugaan penistaan agama.

Ada pihak yang melaporkan pidato Ahok ke polisi. Ia dilaporkan karena diduga menista agama dengan mengaitkan Surat Al Maidah ayat 51 dengan politik. Lebih tepatnya, Ahok diduga menista agama karena mengatakan, "Jangan mau dibohongi pakai Al Maidah 51".


detikcom mendatangi Pulau Pramuka sejak Rabu (4/1/2017) siang hingga Kamis (5/1) siang hari ini. Banyak warga Pulau Pramuka yang cukup antusias saat diajak berbincang soal pidato Ahok. Namun hanya sedikit yang bersedia dikutip sebagai wawancara.

Dari keterangan Lurah Panggang Yulihardi, acara pidato Ahok di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka itu dihadiri oleh peserta yang diundang saja. Karena sosialisasi budi daya ikan, pesertanya merupakan gabungan dari pulau-pulau di sekitar Pulau Pramuka. Jadi, tak banyak juga warga Pulau Pramuka yang datang.

"Ramai kok. Ada yang dari Pulau Kelapa dan lain juga. Perkiraan 100 orang. Itu kan pengelolaan ikan yang program hasilnya 80 persen rakyat dan 20 ke pemerintah," jelas Yulihardi, Kamis (5/1/2017).

Meski tak banyak yang hadir sebagai peserta resmi acara itu, banyak juga warga Pulau Pramuka yang ikut menyaksikan pidato tersebut di sekitar lokasi acara, meski tak banyak yang memperhatikan isinya. Namun yang jelas, kata Yulihardi, tak ada warga yang marah karena pidato Ahok tersebut.

"Saya nggak terlalu merhatiin. Saat itu nggak ada yang marah. Karena mungkin ada joke-joke juga dari Pak Ahok," kata Yulihardi.
"Fokusnya warga ke program. Secara pribadi, saya tidak tahu warga ngeh atau nggak saat itu," imbuh dia.

Menurut Yulihardi, warganya mulai memberikan tanggapan saat kasus Ahok diproses polisi. Warga ramai membahas dugaan penistaan agama, namun, masih kata Yulihardi, pembahasannya datar-datar saja.

"Macam-macam tanggapannya setelah ramai, ada yang cuek kebanyakan," kata dia.

Ahok sendiri sudah beberapa kali didemo atas pidatonya itu. Lurah Panggang menuturkan beberapa warganya pun ikut serta dalam demo itu.

"Ada tapi cuma beberapa saja," ucap Yulihardi.


Dalam kesempatan yang berbeda, dari keterangan sejumlah warga Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, tidak banyak yang meributkan pidato Ahok. Bahkan ada yang menganggap isi pidatonya bagus. 

"Pidato Pak Ahok? Saya biasa saja," ujar salah satu warga Pulau Pramuka, Bram (52), di dermaga Pulau Pramuka, Rabu (4/1).

"Pidatonya bagus. Karena kesandung itu saja jadi masalah. Orang pulau yang nggak tahu jadi tahu semua," ucap Jerri (51) di tempat yang sama. 

Sementara itu, warga Pulau Panggang yang sempat bertemu dengan Ahok saat panen menilai pidato itu tidaklah menyinggung, melainkan salah pilih kata saja. 


"Saya nggak di sosialisasi, saya ketemu di panen raya. Kalau anggapan saya, Pak Ahok bukan menyinggung apa gimana. Kalau manusia luput kesalahan ngomong walaupun lain agama dijelekkan nggak mungkin, salah kata saja," ujar Marudin Boko (51) saat ditemui di Pulau Panggang. 

Menurut mereka dan sejumlah warga yang dimintai konfirmasi, tidak ada masalah dengan pidato Ahok. Keadaan pulau setelah itu pun terbilang normal tanpa ada gejolak. [dnws]







Subscribe to receive free email updates:

Related Posts :