Hari Kopi Sedunia, Di Banyuwangi Barista Kenalkan Seluk Beluk Kopi
[tajukindonesia.com] - Hari kopi internasional dirayakan para barista yang tergabung dalam Banyuwangi Coffee Community (BCC) dengan saling berbagi pengetahuan soal seluk beluk kopi. Tak hanya itu masing-masing unjuk kebolehan ketika menyajikan kopi dengan berbagai metode penyajian.
Rupanya ada banyak metode untuk mengolah kopi seperti V-60, aeropress, cold brew dan lain sebagainya. Salah satu barista yang tergabung dalam BCC, Reza Habib Putra, menjelaskan masing-masing metode memiliki keunikannya sendiri dan menghasilkan cita rasa kopi yang berbeda.
"Untuk menikmati kopi cold brew membutuhkan waktu yang lebih lama antara 6-12 jam. Rasanya akan lebih kuat jika disajikan dalam kondisi dingin (tanpa es) dan bisa bertahan hingga 7 hari dalam kondisi dingin," jelas Reza disela acara Merajut Nusantara dalam Secangkir Kopi di Gedung Pamer Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi, Sabtu (1/10/2016).
Pemilik Minak Kopi itu menyebut cita rasa kopi juga dipengaruhi proses sangrai dari biji kopi. Setiap hasil sangrai bisa dibedakan dari tingkat kematangan biji kopi.
"Ada beberapa tipe mulai dari light, light to medium, medium, medium to dark dan dark. Masing-masing tipe ini akan mempengaruhi ketebalan rasa ketika dicecap," paparnya.
Pemilik Minak Kopi itu menyebut cita rasa kopi juga dipengaruhi proses sangrai dari biji kopi. Setiap hasil sangrai bisa dibedakan dari tingkat kematangan biji kopi.
"Ada beberapa tipe mulai dari light, light to medium, medium, medium to dark dan dark. Masing-masing tipe ini akan mempengaruhi ketebalan rasa ketika dicecap," paparnya.
Dia menambahkan kopi di Banyuwangi memiliki cita rasa yang unik. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis Banyuwangi yang dikelilingi oleh gunung berapi dan wilayah laut.
"Karakter kopi itu memang menyerap aroma dari sekitarnya, zat-zatnya selalu aktif dan beradaptasi dengan lingkungannya. Di Banyuwangi cita rasanya kalau digambarkan lebih spicy dan fruity karena dekat dengan laut dan dekat gunung belerang jadi rasanya kompleks," bebernya.
"Karakter kopi itu memang menyerap aroma dari sekitarnya, zat-zatnya selalu aktif dan beradaptasi dengan lingkungannya. Di Banyuwangi cita rasanya kalau digambarkan lebih spicy dan fruity karena dekat dengan laut dan dekat gunung belerang jadi rasanya kompleks," bebernya.
Acara yang dikemas dengan dialog interaktif, praktek menyajikan kopi dan cupping (mencecap kopi) itu dihadiri oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Harry Cahyo, tester kopi kelas dunia Setiawan Subekti, praktisi kesehatan dr. Taufik Hidayat, dan pecinta kopi.
Setiawan Subekti menuturkan perkembangan kualitas kopi di Banyuwangi maju pesat. Apalagi saat ini banyak anak muda yang menjadikan kopi sebagai bagian gaya hidup.
"Saya senang sekarang kopi jadi lifestyle. Banyak anak muda berkecimpung, kualitas kopi ikut berkembang. Awal saya punya mimpi Banyuwangi banyak kedai kopi yang standar dalam artian prosesnya benar," ujar pemilik Sanggar Genjah Arum itu.
Setiawan Subekti menuturkan perkembangan kualitas kopi di Banyuwangi maju pesat. Apalagi saat ini banyak anak muda yang menjadikan kopi sebagai bagian gaya hidup.
"Saya senang sekarang kopi jadi lifestyle. Banyak anak muda berkecimpung, kualitas kopi ikut berkembang. Awal saya punya mimpi Banyuwangi banyak kedai kopi yang standar dalam artian prosesnya benar," ujar pemilik Sanggar Genjah Arum itu.
Pria yang akrab disapa Iwan itu menjelaskan Banyuwangi memang layak dibranding sebagai kota kopi. Pasalnya produksi kopi di Banyuwangi terbilang tinggi dan 50 persen kebun kopi dimiliki oleh rakyat.
"Ada 10,833 hektar kebun kopi, 50 persen merupakan kebun kopi rakyat sekitar 5,388 hektar. Total produksi Banyuwangi hampir 70 ribu ton per tahun. Dari luas total kebun kopi di Banyuwangi sekitar 8500-an hektar siap panen," tukasnya.
Iwan kemudian mengajak BCC untuk mengedukasi pekebun kopi untuk meningkatkan produktivitasnya. Tak hanya itu Iwan berencana mengajak pekebun kopi agar menanam kopi arabika yang laris di pasar dunia.
"Saya ingin berbagi bibit kopi arabika karena konsumsi dunia 90 persen arabika. Orang punya image bahwa arabika tumbuh di atas 1000 mdpl, padahal di kebun saya ketinggiannya 800 mdpl dan kualitasnya cukup baik. Saat ini tengah disiapkan 100 hektar kopi arabika di Wongsorejo," tukasnya.
Anggota Asociation Scientific International de Coffee yang berpusat di Perancis itu menyebut kopi Indonesia sudah dikenal dunia sebagai produk berkualitas. Sayangnya kuantitas produksi Indonesia masih di bawah Brazil dan Vietnam.
"Ada 10,833 hektar kebun kopi, 50 persen merupakan kebun kopi rakyat sekitar 5,388 hektar. Total produksi Banyuwangi hampir 70 ribu ton per tahun. Dari luas total kebun kopi di Banyuwangi sekitar 8500-an hektar siap panen," tukasnya.
Iwan kemudian mengajak BCC untuk mengedukasi pekebun kopi untuk meningkatkan produktivitasnya. Tak hanya itu Iwan berencana mengajak pekebun kopi agar menanam kopi arabika yang laris di pasar dunia.
"Saya ingin berbagi bibit kopi arabika karena konsumsi dunia 90 persen arabika. Orang punya image bahwa arabika tumbuh di atas 1000 mdpl, padahal di kebun saya ketinggiannya 800 mdpl dan kualitasnya cukup baik. Saat ini tengah disiapkan 100 hektar kopi arabika di Wongsorejo," tukasnya.
Anggota Asociation Scientific International de Coffee yang berpusat di Perancis itu menyebut kopi Indonesia sudah dikenal dunia sebagai produk berkualitas. Sayangnya kuantitas produksi Indonesia masih di bawah Brazil dan Vietnam.
"Total areal kopi Indonesia 1,3 juta hektar sedangkan Brazil dan Vietnam jauh di bawah kita. Tapi secara kuantitas mereka lebih banyak. Hari ini Vietnam produksi per tahun sudah hampir 2 juta ton, kita masih sekitar 700 ribu ton. Meski begitu jangan berkecil hati kualitas kita masih lebih unggul dibanding mereka. Banggalah dengan kopi lokal ," tutup Special Coffee Asociation of America itu.[dtk]