Membaca Kekalahan Telak AS di PBB
[tajukindonesia.id] - Kekalahan telak AS di Sidang Istimewa Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal klaim Yerussalem sebagai ibukota zionis Israel setidaknya menunjukkan bahwa di zaman now ini, pengaruh Amerika sebagai negara super power kian melemah. Dalam sidang PBB menyangkut status Yerussalem itu, 128 negara menolak, 9 mendukung, 35 negara abstain, dan sisanya tidak hadir. Kali ini di PBB Amerika hanya didukung oleh negara-negara kecil seperti Guatemala, Honduras, Mikronesia, Nauru, Palau, Togo, dan Kepulauan Marshall, yang kemungkinan besar mereka pro karena dibawah tekanan dan ancaman AS sendiri.
AS menantang dunia. Kalah voting tak membuat negara yang dikenal sebagai kampium demokrasi itu berdiam diri. Trump bergerak cepat. Dengan kecongkakan dan kepongahannya, ia menyusun siasat "PBB Perjuangan" dengan akan mengundang dan mengumpulkan negara-negara yang abstain dan tidak hadir dalam sidang PBB kemarin, dalam jamuan khusus awal tahun di Washington, untuk membuat keputusan tandingan tentunya.
Memang bukan Amerika namanya kalau tidak melawan dunia. Bukan Amerika namanya kalau tidak melanggar kesepakatan bersama negara-negara. Bukan Amerika namanya kalau tidak mengangkangi resolusi PBB.
Amerika menantang dunia. Itu biasa. Mari kita bongkar rekam jejak Amerika melanggar perjanjian antar negara, yang sudah menjadi rahasia umum. Sedikit saja dalam catatan kita. Di zaman old misalnya, seperti keengganan negeri Paman Sam itu melaksanakan hasil-hasil kesepakatan dua kontrak politik berskala mondial soal pertahanan dan lingkungan hidup.
Pertama, perjanjian Traktat ABM (Anti Ballistic Missile) tahun 1972. Intinya, negara-negara yang terlibat dalam kontrak itu setuju tidak membangun sistem pertahanan antirudal nasional dan sistem sejenis di negaranya masing-masing. Tujuan kesepakatan ini adalah membuat masing-masing pihak tak dirangsang untuk melakukan serangan pertama. Karena ia tahu, pembalasan musuh akan menghancurkan dirinya.
Bagi kita yang mengikuti perkembangan politik luar negeri Amerika, semasa pemerintahan Bill Clinton, bahkan dipromosikan oleh pemerintahan Presiden George W Bush muncul political will membangun satu sistem pertahanan yang jelas-jelas tidak diinginkan oleh banyak negara didunia. Traktat ABM oleh Bush dianggap sudah ketinggalan zaman.
Dalam konferensi pers 12 Juni 2001 lalu, pemimpin AS ini bersama PM Spanyol waktu itu Jose Maria Aznar, di Madrid menyatakan bahwa Traktat ABM adalah peninggalan (relic) masa lalu. Ia mencegah rakyat yang cinta kebebasan menjelajahi masa depan. Meski negara-negara lain tidak bisa menerima rencana pertahanan tersebut Presiden AS seakan tidak menghiraukan dan terus berjalan sendiri.
Kedua, pelanggaran AS terhadap Protokol Kyoto tahun 2012, dengan tidak mau mengurangi emisi gas-gas Rumah Kaca khususnya karbondioksida, yang diyakini berperan besar dalam terjadinya pemanasan global. Dengan entengnya Bush, presiden AS saat itu, menegaskan bahwa pemerintahannya tetap terikat (comitted) untuk mengurangi gas-gas Rumah Kaca di AS. Bagi negara-negara lain tidak akan ada gunanya Protokol Kyoto kalau ternyata negara penyumbang emisi gas terbesar mengambur-hamburkan gasnya ke atmosfer dunia. Mereka mendesak Bush agar mengubah pikirannya dan kembali pada Traktat Kyoto untuk urusan pemanasan global. Lagi-lagi teguran itu tidak memberikan dampak yang berarti bagi perubahan sikap Bush.
Jadi, kalau hari ini Amerika menantang dunia, melanggar kesepakatan bersama, mengangkangi resolusi PBB, dan memancing perang terbuka kepada ummat Islam dunia, itu sebenarnya hanya mengulang sejarah kelam AS yang memang biasa dan acapkali melakukan pelanggaran terhadap perjanjian internasional.[ts]