AS Hikam: DPP Golkar ‘Airlangga’ Jangan “Rasa” Setya Novanto!
[tajukindonesia.id] - Jika memang serius, DPP Golkar di bawah Ketua Umum Airlangga Hartarto harus mandiri. Jangan sampai DPP Golkar di bawah pengaruh kuat elit senior Golkar.
Pendapat itu disampaikan pangamat politik Muhammad AS Hikam mengomentari Munaslub Golkar. “
Kalau memang serius, DPP Golkar di bawah Airlangga H. ya kudu mandiri. Jangan sampai DPP dg 'rasa' Luhut, JK, ARB, apalagi Setnov!!” tegas AS Hikam di akun Twitter @mashikam.
Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional ini juga mengingatkan, soal desakan masa bakti DPP Golkar hanya sampai 2019.
“Upaya untuk batasi masa bakti Ketum DPP Golkar hanya sampai 2019 muncul dalam Munaslub. Jika berhasil, kubu kekuatan status quo berjaya!” tulis @mashikam.
Sebelumnya diberitakan, Sekjen Golkar Idrus Marham mengatakan,mayoritas pemilik suara di Munaslub Golkar setuju revitalisasi pengurus DPP diserahkan sepenuhnya kepada ketum terpilih Airlangga. Revitalisasi bertujuan untuk memastikan soliditas partai.
Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Titiek Soeharto, masih menyoal pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang telah menutup pintu terhadap bursa pencalonan Ketua Umum Golkar.
Menurut Titiek, sebaiknya pihak panitia Munaslub membuka kembali pemilihan Ketua Umum Golkar untuk membuktikan sahihnya proses demokrasi yang ada dalam internal Golkar. [ito]
Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional ini juga mengingatkan, soal desakan masa bakti DPP Golkar hanya sampai 2019.
“Upaya untuk batasi masa bakti Ketum DPP Golkar hanya sampai 2019 muncul dalam Munaslub. Jika berhasil, kubu kekuatan status quo berjaya!” tulis @mashikam.
Sebelumnya diberitakan, Sekjen Golkar Idrus Marham mengatakan,mayoritas pemilik suara di Munaslub Golkar setuju revitalisasi pengurus DPP diserahkan sepenuhnya kepada ketum terpilih Airlangga. Revitalisasi bertujuan untuk memastikan soliditas partai.
Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Titiek Soeharto, masih menyoal pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang telah menutup pintu terhadap bursa pencalonan Ketua Umum Golkar.
Menurut Titiek, sebaiknya pihak panitia Munaslub membuka kembali pemilihan Ketua Umum Golkar untuk membuktikan sahihnya proses demokrasi yang ada dalam internal Golkar. [ito]