Sudirman Said: Kita Punya Masalah Dalam Mengorkestra Kemajemukan Bangsa, Kita Butuh Dirigen


[tajuk-indonesia.com]      -      Tak lagi duduk di kursi pembantu Presiden Jokowi, bi­cara Sudirman Said terdengar sedikit lebih leluasa dalam mengungkap pandangan-pandangannya tentang model kepemimpinan serta kondisi bangsa saat ini.

Menurut dia, masih panas­nya tensi politik Tanah Air pasca pilkada DKI Jakarta ini lantaran Indonesia memiliki keberaga­man suku, agama dan adat yang luar biasa. Untuk menuntas­kan persoalan itu dibutuhkan pemimpin nasional yang sang­gup bertindak sebagai dirigen dalam sebuah orkestra, bukan seperti komandan. Sudirman juga sempat memberikan masu­kan buat presiden, agar memper­lakukan menterinya tak hanya sebagai pembantu, tapi juga se­bagai pemimpin sektor. Kepada Rakyat Merdeka, Sudirman Said menyampaikan pandangan seka­ligus curahan hatinya tentang kondisi bangsa saat ini; 

Tensi politik pasca Pilkada DKI Jakarta masih mema­nas hingga kini. Menurut pandangan Anda apa sih pe­nyebabnya?
Saya pernah menulis di salah satu media, bahwa salah satu tantangan bangsa yang majemuk adalah bagaimana kepemimpi­nan bisa mengokestrakan itu semua. Banyak referensi dan pernyataan juga dari para ahli yang menyebut Indonesia ini bukan negara biasa, negara yang padanannya sangat langka.

Maksud Anda...
Iya negara kita ini sangat luar biasa keberagamannya. Kalau ukuran Eropa, Indonesia ini benua, karena keberagaman­nya. Amerika betul ukuran pan­jangnya mungkin sama dengan Indonesia, tetapi isi manusia di Amerika termasuk homogen, dalam artian sebagian besar adalah imigran. Etnis imigran di sana mengemuka, kemudian mereka bersama-sama berjuang mengangkat harkat dan marta­batnya, kan senasib sepenang­gungan lebih homogen jadinya. Nah kita, dari Aceh ke Medan saja sudah berbeda. Belum lagi hingga ke Sumatera Selatan, sampai akhirnya ke Jawa pun berbeda-beda. Hingga sampai ke Indonesia Timur terus berbeda. Jadi perbedaanya luar biasa, luasnya luar biasa, disparatisnya luar biasa.Kemudian bangsa kita ini kan penganut agama yang taat. Artinya setiap agama punya sensitifitas, punya batas yang tidak bisa diterabas begitu saja oleh orang lain. Berbeda dengan negara lain yang terhadap agama cuek, abai, itu tidak ada sensitif.

Anda sendiri melihat model kepemimpinan saat ini ba­gaimana?
Saya kira ini bukan pandangan saya saja ya, tapi ini juga pandan­gan banyak ahli. Saat ini kita pu­nya masalah dalam mengokestra­kan kemajemukan bangsa ini. Hal ini harus kita lihat sebagai akar dari permasalahan itu semua.

Banyak kalangan menilai saat ini ada ketidaksinkronan kebijakan antara pimpinan pusat dan pimpinan daerah?
Satu sisi dengan negara yang sedemikian majemuk dan besar, sentralisme sudah tidak punya relevansi lagi. Jangan mimpi kita bisa mengelola negara ini dengan sentralistik, karena kita sudah melewati masa-masa sulit, demokrasi dan desentralisasi sudah jadi pilihan kita. 

Memang dampaknya, kepala daerah terkesan punya kewenan­gan sendiri, punya daerah send­iri, punya otonomi sendiri. Nah semakin melebar kekuasaan atau disebut sebagai dunia semakin mendatar maka kemampuan seorang dirigen itu penting. Dirirgen jangan hanya melihat daerah semata-mata sebagai pasukan saja. Karena kalau melihat sebagai pasukan, maka sikap yang muncul adalah se­bagai komandan. Menurut saya yang tepat itu pemimpin harus menjadi dirigen orkestra.
 
Mengapa Anda memilih menggunakan perumpamaan dirigen orkestra, bukan yang lain? 
Menurut saya dirigen orkestra mulai bekerjanya dengan kon­sep, dengan partitur. Mau di­arahkan kemana bangsa dan negara ini. Kemudian dirigen juga memilih pemain-pemain terbaik pada musiknya masing-masing, lalu setelah itu berlatih musik bersama-sama, sehingga lama-lama menghasilkan har­moni. Dalam konteks berne­gara, kepala daerah adalah orang terbaik di wilayahnya masing-masing, kemudian sektor-sek­tor adalah orang-orang terbaik di bidangnya masing-masing. Nah dirigen dibutuhkan untuk memimpin mereka itu.

Oh ya Anda kan pernah masuk barisan Kabinet Kerja. Boleh tahu enggak bagaimana komunikasi Presiden Jokowi dengan menterinya, serta komunikasi antar sesama menterinya?
Saya tidak lama di kabinet, hanya tidak kurang dari dua tahun. Belajar memahami di­namika antar-kementerian, di­namika antar-menteri dengan pemimpinnya yaitu presiden dan wapres. Ya mungkin kita harus tunggu dan harapkan lebih baik lagi agar para menteri itu diperlakukan sebagai pemimpin sektor, tidak sekadar pembantu presiden. 

Sebab, kalau menurut saya, menteri itu memiliki dua sisi seperti uang logam. Satu sisi memang menteri pembantu presiden, tapi di sisi lainnya adalah pemimpin sektor. Tidak mungkinlah presiden dan wapres itu mengendalikan semuan­ya langsung. Tentu sebagai pemimpin sektor, mereka harus punya ruang bergerak, ruang tanggung jawab, kewenangan untuk mengurus sektornya. Karena sebagian sektor teknis yang memerlukan pemahaman, memerlukan sistem kuat yang berjalan sehingga sudah didasari oleh pertimbangan-pertimban­gan di sektor bersangkutan.

Kalau ditanya bagaimana ko­munikasi, saya berharap ada satu situasi di mana perlakuan kepada para menteri itu tidak dianggap sebagai hanya anggota baris-berbaris, tapi pemimpin sektor diperlakukan lebih tepat.[rmol]
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Subscribe to receive free email updates: